Prenduan- Pelaksanaan hari kedua Idul Khotmi Tarekat Tijaniyah ke-234 di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan diwarnai dengan Halaqah Ilmiah Muqaddam Tarekat Tijaniyah Indonesia, Sabtu (18/7/2026). Bertempat di Gedung Serba Guna, forum ilmiah yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini diikuti sekitar 162 muqaddam dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dipimpin oleh Sayyidi Syekh Syarif Muhammad Thohir bin Ali At-Tijani, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan berbagai isu strategis terkait pembinaan spiritual dan penguatan peran muqaddam dalam menjaga kemurnian ajaran Tarekat Tijaniyah.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tijani, M.A., menjelaskan bahwa halaqah ini menjadi forum penting untuk memperdalam pemahaman para muqaddam terhadap ajaran Tarekat Tijaniyah yang bersumber dari sanad yang sahih. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menyamakan persepsi dalam membimbing para ikhwan di berbagai daerah agar kualitas pembinaan ruhani tetap terjaga.
"Kami berharap halaqah ini melahirkan para muqaddam yang tidak hanya kokoh dalam penguasaan ilmu tarekat, tetapi juga arif dalam membimbing umat. Dengan demikian, dakwah Tarekat Tijaniyah dapat terus berkembang secara bijaksana, moderat, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat," ujar Kiai Ahmad Fauzi.

Menurutnya, halaqah tidak hanya menjadi ruang penguatan keilmuan, tetapi juga mempererat ukhuwah antarmuqaddam se-Indonesia sehingga koordinasi, sinergi, dan kualitas pembinaan spiritual dapat terus ditingkatkan.
Pada sesi tausiyah, Sayyidi Syarif Muhammad Al-Habib, salah seorang syurafa' Tarekat Tijaniyah dari Aljazair, mengawali penyampaiannya dengan mengajak seluruh peserta untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah SWT.
Menurutnya, rasa syukur merupakan kunci hadirnya keberkahan dan tambahan nikmat, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

"Kita harus mensyukuri semua nikmat Allah, baik yang nyata maupun yang tidak tampak, yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, agar pertemuan di negeri ini dan di pondok ini memperoleh keberkahan dari Allah SWT," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sayyidi Syarif menekankan pentingnya memahami kriteria seorang syekh yang layak dijadikan pembimbing ruhani. Ia menjelaskan bahwa seorang syekh sejati adalah mereka yang telah mencapai maqam ma'rifat kepada Allah SWT melalui perjalanan spiritual yang sahih.
"Syekh yang telah sampai (washil), sempurna (kamil), dan agung (kabir) ialah syekh yang telah menembus berbagai hijab hingga mencapai ma'rifat kepada Allah SWT," jelasnya.
Ia mengingatkan agar umat tidak menjadikan seseorang sebagai pembimbing spiritual apabila belum mencapai derajat tersebut, karena dikhawatirkan dapat menyesatkan perjalanan ruhani seorang murid.
Lebih lanjut, Sayyidi Syarif menegaskan bahwa dalam Tarekat Tijaniyah, rujukan utama pembinaan spiritual adalah Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad bin Al-Mukhtar At-Tijani ra. yang diyakini sebagai Al-Quthb Al-Maktum.
Ia juga menjelaskan bahwa seseorang hanya dibenarkan berguru kepada seorang syekh karena dua tujuan, yakni karena syekh tersebut merupakan wali Allah dan sebagai pembimbing yang mengarahkan manusia menuju keridaan-Nya.
"Di luar dua tujuan itu, seseorang tidak akan memperoleh manfaat hakiki dari kebersamaannya dengan seorang syekh," tegasnya.
Kepada sekitar 162 muqaddam yang hadir, Sayyidi Syarif berpesan agar senantiasa menjaga amanah sebagai penerus ajaran Tarekat Tijaniyah. Menurutnya, muqaddam bukanlah pembawa ajaran baru, melainkan wakil yang bertugas menyampaikan ajaran Sayyidi Syekh Ahmad At-Tijani secara utuh kepada para murid.

Karena itu, para muqaddam dituntut menjaga kemurnian sanad dan menghindarkan jamaah dari berbagai amalan yang tidak memiliki landasan dalam ajaran Syekh Ahmad At-Tijani.
Mengakhiri tausiyahnya, Sayyidi Syarif mengajak seluruh peserta memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, khususnya Shalawat Fatih, sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
"Banyak pintu menuju Allah, tetapi pada zaman ini pintu yang paling dekat adalah melalui Rasulullah SAW. Karena itu, perbanyaklah membaca shalawat kepada beliau. Orang yang banyak bershalawat akan memperoleh kedekatan dengan Rasulullah SAW pada hari kiamat kelak," pungkasnya.


