Tulisan ke-10 | Seri GPU 2040 | Menuju Global Pesantrenpreneur University
Pilar R — Riset dan Inovasi dalam Kerangka GPU 2040
Oleh: Rektor Universitas Al-Amien Prenduan
Apa jadinya sebuah universitas jika seluruh dosennya hanya mengajarkan pengetahuan yang sudah ditemukan orang lain?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi menyentuh salah satu alasan paling mendasar mengapa sebuah perguruan tinggi didirikan. Universitas bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Universitas juga merupakan tempat pengetahuan dipertanyakan, diuji, dikembangkan, dan dilahirkan kembali dalam bentuk yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang GPU 2040, kita tidak cukup hanya bertanya berapa banyak program studi yang kita miliki, berapa banyak mahasiswa yang kita luluskan, atau berapa banyak kerja sama yang berhasil kita bangun. Kita juga perlu bertanya: pengetahuan baru apa yang sedang kita hasilkan? Persoalan apa yang sedang kita pecahkan? Dan sejauh mana hasil penelitian kita benar-benar kembali kepada masyarakat?
Di sinilah Pilar R, Riset dan Inovasi, memperoleh tempat yang sangat penting.
Dari Mendapatkan Hibah Menuju Membangun Budaya Riset
Alhamdulillah, tanda-tanda awal ke arah tersebut mulai terlihat di Universitas Al-Amien Prenduan. Pada tahun 2026, sejumlah dosen UNIA berhasil memperoleh pendanaan penelitian dari berbagai sumber. Dari skema Litapdimas Kementerian Agama, delapan proposal penelitian dosen UNIA berhasil mendapatkan hibah. Capaian tersebut tersebar pada beberapa skema penelitian dan melibatkan dosen dari sejumlah fakultas.
Namun, perjalanan riset UNIA tidak berhenti pada Litapdimas. Tahun lalu, salah seorang dosen UNIA berhasil memperoleh pendanaan melalui MoRA The AIR Funds (Ministry of Religious Affairs The Awakened Indonesia Research Funds), sebuah skema pendanaan penelitian yang membuka ruang lebih luas bagi dosen perguruan tinggi keagamaan untuk mengembangkan penelitian dengan cakupan dan dukungan pendanaan yang lebih besar.
Pada tingkat daerah, UNIA juga secara rutin membangun hubungan dengan BRIDA Kabupaten Sumenep (Badan Riset dan Inovasi Daerah) melalui kerjasama penelitian. Kehadiran sumber pendanaan dari tingkat daerah hingga nasional ini menunjukkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar jumlah hibah: UNIA mulai memasuki ruang penelitian yang lebih terbuka dan kompetitif.
Inilah yang perlu kita rawat. Sebab, tujuan akhirnya bukan agar UNIA dikenal sebagai kampus yang berhasil memperoleh banyak hibah. Tujuan yang lebih besar adalah agar hibah tersebut menjadi instrumen untuk membangun budaya riset yang hidup.
Budaya riset berarti dosen terbiasa membaca persoalan, merumuskan pertanyaan, mencari bukti, menguji gagasan, bekerja secara kolaboratif, dan membagikan hasil temuannya. Dalam budaya semacam itu, penelitian bukan pekerjaan tambahan ketika ada panggilan hibah. Penelitian menjadi bagian dari identitas akademik seorang dosen.
Riset sebagai Amanah, Bukan Sekadar Administrasi
Kita perlu jujur bahwa salah satu tantangan perguruan tinggi adalah kecenderungan menjadikan penelitian sebagai aktivitas administratif. Proposal diajukan karena ada hibah. Penelitian dilakukan karena ada target. Laporan diselesaikan karena ada kewajiban. Setelah itu, semuanya kembali seperti semula. Pola semacam ini perlu kita ubah.
Penelitian yang dibiayai oleh negara, lembaga, atau masyarakat pada dasarnya membawa amanah. Karena itu, keberhasilan penelitian tidak berhenti ketika laporan selesai. Ukuran yang lebih substantif adalah apa yang dihasilkan setelah penelitian tersebut selesai.
Apakah ia menghasilkan publikasi yang bermutu? Apakah ia memberikan rekomendasi yang dapat digunakan? Apakah ia melahirkan model pembelajaran baru? Apakah ia membantu menyelesaikan persoalan masyarakat? Apakah ia menghasilkan inovasi? Apakah ia membuka peluang penelitian lanjutan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi bagian dari cara kita memandang penelitian.
Dengan demikian, hibah bukan tujuan riset. Hibah adalah salah satu alat untuk memungkinkan riset menghasilkan dampak.
Menemukan yang Baru Tanpa Kehilangan Akar
Sebagai universitas yang lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren, UNIA memiliki modal yang tidak dimiliki semua perguruan tinggi. Kita memiliki lingkungan pesantren sebagai laboratorium sosial yang kaya. Kita memiliki pengalaman pendidikan Islam yang panjang. Kita memiliki tradisi keilmuan, kehidupan santri, jaringan alumni, serta kedekatan dengan berbagai persoalan masyarakat Madura dan kawasan sekitarnya.
Semua itu bukan sekadar identitas. Jika dikelola melalui penelitian yang serius, semuanya dapat menjadi sumber keunggulan akademik.
Karena itu, menjadi universitas yang berorientasi global tidak berarti kita harus meninggalkan persoalan lokal. Justru sebaliknya, persoalan lokal dapat menjadi pintu menuju kontribusi global apabila kita mampu mengkajinya dengan metodologi yang kuat dan menghasilkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Misalnya, bagaimana transformasi digital mengubah tata kelola pesantren? Bagaimana kewirausahaan santri dapat dikembangkan menjadi model ekonomi pesantren? Bagaimana pendidikan karakter pesantren dapat diuji secara empiris? Bagaimana kesehatan masyarakat pesantren dapat ditingkatkan? Bagaimana tradisi keilmuan pesantren dapat berdialog dengan perkembangan kecerdasan artifisial?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa akar tradisi tidak bertentangan dengan inovasi. Justru dari akar yang kuat, kita dapat menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.
Dari Individual Researcher Menuju Ekosistem
Langkah berikutnya adalah mengubah keberhasilan individual menjadi kekuatan kelembagaan. Delapan proposal Litapdimas, satu penerima MoRA The AIR Funds, serta kerja sama penelitian dengan BRIDA Kabupaten Sumenep harus kita lihat sebagai titik-titik yang mulai membentuk sebuah jaringan.
Kita perlu membangun mekanisme pendampingan proposal yang sistematis. Dosen yang telah berhasil memperoleh hibah dapat menjadi mentor bagi dosen lainnya. Program studi dan fakultas dapat membangun kelompok riset berdasarkan bidang keahlian dan persoalan strategis. Kolaborasi lintas disiplin juga perlu diperluas karena persoalan masyarakat tidak pernah mengenal batas program studi.
Lebih jauh, mahasiswa perlu dilibatkan dalam ekosistem tersebut. Mereka tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses pencarian pengetahuan melalui penelitian, tugas akhir, proyek inovasi, maupun pengabdian berbasis hasil riset.
Dengan demikian, riset tidak lagi menjadi aktivitas beberapa dosen. Ia menjadi ekosistem akademik yang melibatkan dosen, mahasiswa, program studi, fakultas, lembaga penelitian, mitra pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Riset untuk Membawa Pesantren Berbicara kepada Dunia
Inilah salah satu makna penting GPU 2040. Kita ingin membangun universitas yang berakar pada pesantren, tetapi mampu berbicara dalam bahasa akademik global. Kita ingin persoalan pesantren tidak hanya dibicarakan di ruang pengajian atau forum internal, tetapi juga diteliti, dipublikasikan, dan didiskusikan dalam komunitas akademik internasional.
Untuk itu, kita tidak harus kehilangan identitas. Sebaliknya, identitas itulah yang harus kita bawa menjadi sumber pertanyaan ilmiah dan inovasi. Dunia tidak membutuhkan universitas yang hanya meniru universitas lain. Dunia membutuhkan universitas yang memiliki sesuatu untuk disumbangkan.
UNIA memiliki kekayaan itu: pengalaman pesantren, tradisi keislaman, kehidupan masyarakat, dan konteks lokal yang sangat kaya. Tantangannya adalah mengubah kekayaan tersebut menjadi pengetahuan yang teruji dan dapat dibagikan kepada dunia.
Dari Delapan Menjadi Lebih Banyak, Dari Hibah Menjadi Tradisi
Karena itu, target kita tidak boleh berhenti pada proposal yang lolos tahun ini. Kita berharap dari delapan proposal tersebut lahir lebih banyak peneliti. Dari para peneliti tersebut lahir kelompok-kelompok riset. Dari kelompok riset lahir kolaborasi. Dari kolaborasi lahir publikasi, inovasi, dan rekomendasi yang memberi manfaat. Dan dari seluruh proses itu tumbuh sebuah kebiasaan akademik yang akhirnya menjadi budaya.
Jika itu terjadi, maka kita tidak lagi berbicara tentang keberhasilan memperoleh hibah. Kita sedang berbicara tentang transformasi budaya akademik UNIA.
Itulah yang sesungguhnya kita inginkan dalam GPU 2040. Bukan hanya universitas yang mengajarkan ilmu, tetapi universitas yang menghasilkan ilmu. Bukan hanya universitas yang mengikuti perubahan, tetapi universitas yang ikut menciptakan perubahan. Bukan hanya universitas yang menjaga tradisi, tetapi universitas yang mampu membuat tradisi tersebut tetap relevan dalam menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, riset adalah cara kita bertanya kepada zaman. Apa yang sedang berubah? Apa yang perlu kita pahami? Apa yang perlu kita perbaiki? Apa yang dapat kita ciptakan? Dan apa yang dari warisan masa lalu justru perlu kita hidupkan kembali?
Pilar R GPU 2040 mengajak UNIA untuk menemukan yang baru tanpa kehilangan yang lama.
Kita tidak perlu memilih antara akar dan masa depan. Kita dapat berakar kuat sekaligus tumbuh tinggi. Semoga dari UNIA lahir penelitian yang bukan hanya memenuhi halaman jurnal, tetapi juga menerangi kehidupan. Bukan hanya menambah jumlah publikasi, tetapi menambah kemanfaatan. Dan bukan hanya membawa nama UNIA ke dunia, tetapi membawa pengalaman dan kekayaan pesantren kepada dunia.
Semoga Allah memberkahi setiap ikhtiar kita. Aamiin.