kaleidoskop Senin, 7 September 2026

KABAR UNIA SEPEKAN (Pekan I – September 2026): Menguatkan Fondasi, Membuka Jejaring, Menatap Masa Depan

KABAR UNIA SEPEKAN (Pekan I – September 2026): Menguatkan Fondasi, Membuka Jejaring, Menatap Masa Depan

Memasuki September 2026, Universitas Al-Amien Prenduan (UNIA) melanjutkan langkahnya dengan sejumlah agenda yang mempertemukan penguatan tradisi pendidikan, pengembangan kapasitas, dan perluasan jejaring kelembagaan. Di lingkungan Ma’had, penguatan karakter dan orientasi kepondokan terus ditanamkan. Di sisi lain, UNIA mulai memperluas ruang dialog dan kolaborasi melalui forum pendidikan Islam berskala nasional dan internasional, sekaligus mempersiapkan pengembangan kelembagaan dan akademik untuk masa mendatang.



KUK: Meneguhkan Fondasi Kepondokan dan Niat Menuntut Ilmu

Salah satu agenda penting pada pekan ini adalah pembukaan Kuliah Umum Kepondokan (KUK) Ma’had UNIA Prenduan yang berlangsung pada 4–5 September 2026 di Rektorat Lantai III. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari proses orientasi dan pengenalan nilai-nilai kepondokan, khususnya bagi mahasantri baru, sekaligus ruang untuk kembali meneguhkan Panca Jiwa Pondok sebagai landasan kehidupan pendidikan di Ma’had UNIA.

Dalam taujihat-nya, Pengasuh UNIA Prenduan, KH. Moh. Fikri Husain, M.A., menekankan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu dan memaknai kesempatan belajar di Ma’had sebagai sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dijalani dengan sungguh-sungguh.

Penekanan tersebut memperlihatkan bahwa orientasi pendidikan di UNIA tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Pembentukan niat, karakter, dan kesadaran spiritual menjadi fondasi yang mengiringi proses akademik, sehingga ilmu yang diperoleh diharapkan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melahirkan perubahan diri dan kesiapan untuk memberi manfaat.

KUK yang dilaksanakan dalam rangkaian Pekan Perkenalan dan Orientasi (PERLANTASI) ini menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kesinambungan tradisi pendidikan Al-Amien di tengah dinamika pendidikan tinggi yang terus berkembang.



GIHES 2026: Membawa Tradisi Pesantren ke Ruang Dialog Pendidikan Global

Pada 5–6 September 2026, perhatian terhadap perkembangan pendidikan Islam juga hadir melalui Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur Jakarta dengan tema “Exploring and Revealing the Islamic Holistic Education System.”

Dalam agenda tersebut, Rektor Universitas Al-Amien Prenduan, Dr. KH. Muhtadi Abdul Mun’im, M.A., turut membersamai Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tidjani, M.A. dalam forum yang mempertemukan tokoh pendidikan pesantren, perguruan tinggi, pemerintah, serta akademisi dari berbagai negara.

GIHES 2026 secara khusus membahas pendidikan holistik dalam sistem pesantren, relasi pesantren dengan pendidikan tinggi Islam, pembentukan karakter, tata kelola pesantren, hingga tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan. Forum ini juga menghadirkan pembicara dari Indonesia dan sejumlah negara, termasuk Jepang, Turki, India, dan Malaysia.

Bagi UNIA, kehadiran Rektor dalam forum tersebut menjadi bagian dari keterhubungan antara pengembangan perguruan tinggi dengan akar tradisi pendidikan Al-Amien. Terlebih, pembahasan GIHES mengenai keberlanjutan pesantren, kepemimpinan, pendidikan holistik, teknologi, penelitian, dan inovasi memiliki relevansi kuat dengan tantangan pengembangan pendidikan tinggi Islam saat ini.

Forum tersebut juga membuka ruang pembicaraan mengenai kemitraan dalam bidang pertukaran guru, penelitian, kurikulum, publikasi, dan kerja sama kelembagaan. Hal ini semakin mempertegas pentingnya jejaring dalam membangun lembaga pendidikan yang tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga terbuka terhadap perkembangan dan kolaborasi global.



Dari Jakarta, UNIA Menyiapkan Langkah Pengembangan Akademik

Kunjungan Rektor UNIA ke Jakarta pada pekan yang sama tidak berhenti pada kehadiran dalam forum GIHES. Pada 7 September 2026, agenda dilanjutkan dengan pembaruan MoU antara UNIA dan Universitas Darunnajah Jakarta, benchmarking sebagai bagian dari persiapan pengembangan program doktoral, serta Focus Group Discussion (FGD) yang salah satunya membahas perencanaan pembukaan Program Studi S3 di UNIA.

Rangkaian agenda tersebut menunjukkan bahwa perluasan jejaring UNIA diarahkan pada agenda yang lebih konkret. Kerja sama kelembagaan, pertukaran pengalaman, dan benchmarking menjadi bagian dari proses menyiapkan pengembangan pendidikan tinggi yang lebih tinggi dan lebih luas.

Persiapan menuju pembukaan program doktoral juga menjadi sinyal bahwa UNIA terus membaca kebutuhan pengembangan institusi dalam jangka panjang. Jejaring tidak sekadar dibangun untuk memperbanyak kerja sama, tetapi diarahkan menjadi modal kelembagaan untuk meningkatkan kapasitas dan membuka ruang akademik baru.


Menyiapkan Generasi Niha’ie: Dari Dokumentasi Menuju Kesiapan Pengabdian

Di lingkungan Ma’had UNIA, proses pendidikan juga terus berjalan melalui sejumlah agenda Program Niha’ie. Pada 1 September dilaksanakan pengumpulan oto-biografi Program Niha’ie Ma’had, dilanjutkan dengan proses pengoreksian pada 2–4 September.



Agenda tersebut berjalan beriringan dengan tes mengaji bagi mahasantri baru Program Ma’had pada 2–3 September. Dua agenda ini memperlihatkan dua sisi dari keberlanjutan proses pendidikan di Ma’had: di satu sisi mempersiapkan mahasantri tingkat akhir untuk menyelesaikan rangkaian pendidikannya, sementara di sisi lain memastikan kesiapan generasi baru yang mulai memasuki lingkungan Ma’had.

Pada saat yang sama, Diseminasi P2M 2026 yang berlangsung di lantai III Gedung Rektorat pada 1 September menjadi ruang untuk berbagi hasil dan pengalaman kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, kegiatan akademik dan pengabdian berjalan sebagai bagian yang saling menguatkan dalam ekosistem pendidikan UNIA.


Satu Pekan, Satu Arah: Mengakar dan Melangkah

Rangkaian kegiatan 1–7 September 2026 memperlihatkan gerak UNIA yang berlangsung pada dua arah sekaligus. Ke dalam, UNIA terus memperkuat fondasi pendidikan melalui tradisi kepondokan, pembinaan mahasantri, dan pengembangan kapasitas akademik. Ke luar, UNIA memperluas jejaring melalui forum pendidikan Islam, kerja sama kelembagaan, benchmarking, dan penjajakan pengembangan akademik.

Keduanya bukan dua agenda yang terpisah. Justru di sanalah karakter pengembangan UNIA menemukan arahnya: tradisi tetap menjadi fondasi, sementara jejaring dan inovasi menjadi jalan untuk menatap masa depan.

Memasuki September, UNIA tidak hanya melanjutkan rutinitas akademik, tetapi mulai menyusun kepingan-kepingan langkah strategis untuk perjalanan yang lebih panjang. Dari Ma’had hingga forum internasional, dari pembinaan karakter hingga persiapan program doktoral, seluruhnya mengarah pada cita yang sama: membangun perguruan tinggi yang kokoh dalam nilai, berkembang dalam keilmuan, luas dalam jejaring, dan semakin nyata kontribusinya bagi masyarakat.


UNIA: Mengakar dalam tradisi, bertumbuh dalam keilmuan, meluas dalam pengabdian.