Detail Artikel

Tulisan dan pemikiran dari civitas akademika

Artikel

Mutu Adalah Budaya, Bukan Beban

Rabu, 1 Juli 2026
Admin
Mutu Adalah Budaya, Bukan Beban

Tulisan#3 | Seri GPU 2040 | Menuju Global Pesantrenpreneur University

(Pilar A — Akreditasi dan Tata Kelola dalam Kerangka GPU 2040)


oleh: Rektor Universitas Al-Amien Prenduan


Lebih dari enam dekade lalu, Douglas McGregor, profesor manajemen di MIT, memperkenalkan dua asumsi dasar tentang perilaku manusia di tempat kerja dalam bukunya The Human Side of Enterprise (1960). Ia membagi pandangan pemimpin terhadap bawahan ke dalam dua kutub: Teori X mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya cenderung malas, menghindari tanggung jawab, dan memerlukan pengawasan serta kontrol yang ketat; serta Teori Y, yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya bertanggung jawab, memiliki motivasi intrinsik, dan dapat berkinerja optimal apabila diberi kepercayaan serta kesempatan untuk berkembang.


Berbagai penelitian selama puluhan tahun menunjukkan bahwa organisasi yang menerapkan prinsip-prinsip mendekati Teori Y cenderung menghasilkan tingkat kinerja, inovasi, kepuasan kerja, dan loyalitas yang lebih tinggi dibandingkan organisasi yang berbasis Teori X. Meski demikian, banyak sistem birokrasi, termasuk di sektor pendidikan tinggi, masih beroperasi dengan asumsi yang lebih dekat ke Teori X: prosedur yang berlapis, pengawasan yang ketat, dan laporan yang tak kunjung usai.


Dunia pendidikan tinggi juga mencerminkan temuan serupa. Antara tahun 2002 hingga 2006, European University Association (EUA) menjalankan proyek Quality Culture yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi Eropa. Temuan utamanya menunjukkan bahwa institusi yang paling berhasil dalam penjaminan mutu bukanlah yang memiliki prosedur dan sistem pengawasan paling ketat, melainkan yang mampu menjadikan mutu sebagai nilai dan keyakinan bersama di dalam institusi, bukan sekadar kewajiban eksternal. Proyek ini turut melahirkan dan mempopulerkan konsep Quality Culture yang kini menjadi rujukan luas: mutu yang berkelanjutan lebih efektif ketika tumbuh dari dalam sebagai budaya organisasi, bukan hanya dipasang dari luar melalui aturan formal.


Dua temuan ini berbicara tentang satu kesimpulan yang sama: cara kita memandang manusia dan cara kita membangun institusi akan menentukan mutu yang kita hasilkan. Di sinilah Pilar A dalam kerangka GPU 2040 menemukan relevansinya yang paling mendasar. Pilar A (sebagai salah satu pilar strategis pengembangan UNIA) bukan sekadar tentang nilai akreditasi, tetapi tentang budaya yang kita bangun bersama di dalam UNIA.


Dua Cara Memandang Mutu


Dalam literatur manajemen pendidikan tinggi, para ahli membedakan dua orientasi mutu yang secara fundamental berbeda, dan keduanya memiliki konsekuensi yang sangat berbeda pula.


Pertama adalah compliance culture—budaya kepatuhan. Di sini, mutu dikejar karena ada tekanan eksternal: akreditasi yang akan habis masa berlakunya, ada visitasi yang akan datang, ada ranking yang harus dipertahankan. Institusi bergerak karena takut. Takut nilai turun, takut status dicabut, takut malu di depan publik. Celakanya, begitu tekanan eksternal itu mereda, gerak pun ikut berhenti.


Kedua adalah quality culture—budaya mutu. Di sini, mutu dikejar bukan karena ada yang mengawasi, tetapi karena ada keyakinan bahwa inilah cara kita seharusnya bekerja. Ia bukan respons terhadap tekanan, ia adalah ekspresi dari nilai. Karena ia lahir dari dalam, ia tidak berhenti ketika tekanan dari luar menghilang.


Dalam bahasa Islam, perbedaan ini sebenarnya sudah sangat kita kenal. Rasulullah ﷺ bersabda: "Innallaha yuhibbu idza 'amila ahadukum 'amalan an yutqinahu"—sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang mengerjakan sesuatu, ia mengerjakannya dengan itqan, dengan sungguh-sungguh dan sempurna. Bukan karena diawasi. Bukan karena ada yang menilai. Tetapi karena itulah standar seorang muslim dalam bekerja.


Itqan adalah quality culture dalam bahasa Islam. Inilah yang menjadi ruh Pilar A dalam kerangka GPU 2040.


Akreditasi dan Amanah


Ada kesalahan berpikir yang perlu kita luruskan bersama: akreditasi bukan tujuan. Ia adalah konsekuensi dari mutu yang sesungguhnya kita jalankan.


Universitas yang sibuk mengejar akreditasi tanpa membangun mutu yang nyata ibarat seseorang yang rajin bercermin tetapi tidak pernah mandi. Tampilannya mungkin terjaga sesaat, tetapi baunya akan berbicara. Sebaliknya, universitas yang sungguh-sungguh membangun sistem yang baik, menjalankan proses pembelajaran yang berkualitas, mengelola sumber daya dengan transparan dan akuntabel, akreditasi adalah konsekuensi alami yang akan datang dengan sendirinya.


Data membuktikan ini. Penilaian BAN-PT terhadap perguruan tinggi yang memperoleh akreditasi Unggul menunjukkan bahwa institusi-institusi tersebut rata-rata telah membangun sistem penjaminan mutu internal (SPMI) yang berjalan aktif jauh sebelum proses akreditasi dimulai. Mutu bukan sesuatu yang mereka tunjukkan kepada asesor, mutu adalah sesuatu yang mereka jalani setiap hari.


UNIA sendiri baru saja melewati sebuah momen yang membuktikan prinsip ini secara nyata. Pada akhir tahun 2025, UNIA berhasil meningkatkan status akreditasinya dari "Baik" menjadi "Baik Sekali", sebuah lompatan yang menempatkan kita di antara 18 persen perguruan tinggi di Indonesia yang berhasil mencapai peringkat tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan dari kerja keras yang telah dilakukan oleh seluruh civitas akademika UNIA selama bertahun-tahun: dosen yang mengajar dengan serius, tenaga kependidikan yang melayani dengan tulus, pimpinan yang mengelola dengan akuntabel.


Namun justru di sinilah kita perlu berhati-hati dengan perangkap yang paling berbahaya: merasa sudah cukup. Akreditasi "Baik Sekali" adalah pencapaian yang patut disyukuri, tetapi ia bukan garis finis. Dalam kerangka GPU 2040, ia adalah batu loncatan, bukan pijakan terakhir. Tantangan kita berikutnya bukan hanya mempertahankan status ini dengan cara yang sama seperti kita meraihnya, melainkan mentransformasi cara kita bekerja sehingga mutu bukan lagi sesuatu yang kita kejar, melainkan sesuatu yang kita jalani dan hidup di dalamnya setiap hari.


Inilah yang Pilar A tuntut dari UNIA: bukan lagi sekadar nilai akreditasi yang baik sekali, tetapi budaya mutu yang menjadi DNA kelembagaan kita.


Pilar A tidak hanya berbicara tentang akreditasi. Ia juga berbicara tentang tata kelola, bagaimana UNIA dikelola sebagai sebuah institusi yang bertanggung jawab kepada banyak pihak: mahasiswa, orang tua, masyarakat, negara, dan yang paling utama: kepada Allah SWT.


Dalam perspektif Islam, tata kelola yang baik adalah manifestasi dari nilai amanah. Ketika seorang pimpinan unit mengambil keputusan yang tidak berdasar pada data, ia sedang mengkhianati amanah. Ketika laporan dibuat asal-asalan, ketika proses dilakukan tanpa standar, ketika evaluasi dijalankan sekadar formalitas, itu semua adalah bentuk pengabaian terhadap amanah yang diemban.


Ketika Mutu Menjadi Identitas


Kesalahan terbesar dalam memahami mutu adalah menganggapnya sebagai urusan lembaga penjaminan mutu semata. Mutu bukan urusan departemen, atau tanggung jawab unit kerja tertentu. Mutu adalah cara kita bekerja.


Ketika seorang dosen menyiapkan RPS dengan sungguh-sungguh dan menjalankannya dengan konsisten, itu adalah mutu. Ketika seorang tenaga kependidikan memproses dokumen mahasiswa dengan cepat, akurat, dan ramah, itu adalah mutu. Ketika sebuah rapat menghasilkan keputusan yang ditindaklanjuti, bukan sekadar notulen yang diarsipkan, itu adalah mutu. Ketika seorang pimpinan membuat laporan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, itu adalah mutu.


Mutu bukan sesuatu yang datang dari atas lalu diturunkan ke bawah. Ia dibangun dari bawah, dari setiap meja kerja, setiap ruang kelas, setiap interaksi. Lalu naik ke atas membentuk reputasi institusi.


James Clear dalam bukunya Atomic Habits (2018) menulis sesuatu yang sangat relevan: "Every action you take is a vote for the type of person you wish to become." Dalam konteks kelembagaan, kita bisa meminjam logika yang sama: setiap tindakan yang kita ambil adalah fondasi penting tentang proses UNIA ingin menjadi institusi semacam apa.


Setiap kali kita memilih untuk bekerja dengan standar yang tinggi meski tidak ada yang mengawasi, kita sedang memilih menjadi institusi bermutu. Setiap kali kita memilih transparansi di atas kepentingan jangka pendek, kita sedang memilih menjadi institusi yang terpercaya. Setiap kali kita menjalankan proses evaluasi dengan jujur, mengakui kekurangan dan berkomitmen untuk memperbaikinya, kita sedang memilih menjadi institusi yang bertumbuh.


McGregor menunjukkan bahwa institusi yang besar bukan dibangun oleh sistem yang mengawasi manusianya, melainkan oleh manusia yang mempercayai nilai-nilainya. Pencapaian akreditasi "Baik Sekali" adalah bukti bahwa kita mampu. Visi GPU 2040 adalah undangan bahwa kita bisa lebih jauh. Yang dibutuhkan adalah satu hal yang tidak bisa dibeli atau diakreditasi: keyakinan kolektif bahwa mutu adalah cara hidup kita, setiap hari, di setiap meja kerja, dalam setiap keputusan kecil yang kita buat.


Mutu bukan beban yang kita pikul menjelang akreditasi. Mutu adalah identitas yang kita bangun setiap hari. Identitas itu, jika kita jaga dengan itqan, akan mengantarkan UNIA ke tempat yang kita cita-citakan bersama.


Semoga Allah memberkahi setiap ikhtiar kita. Aamiin.