Ke Mana Kita Melangkah? Sebuah Mukadimah untuk Perjalanan Bersama

Tulisan#1 | Seri GPU 2040 | Menuju Global Pesantrenpreneur University
oleh: Rektor UNIA
Secara fisik, manusia tidak sebesar gajah, tidak secepat kuda, atau sekuat gorila, namun Allah SWT telah menganugerahkan kepadanya keistimewaan yang tiada tara: akal budi. Manusia diberikan kemampuan untuk mempercayai serta menyebarkan narasi-narasi besar. Dengan karunia ini, manusia berhasil menjadi khalifah yang menguasai penjuru bumi. Para ilmuwan menyebut momen ini sebagai cognitive revolution (revolusi kognitif). Yang menjadikan manusia lebih baik dari makhluk lainnya adalah kemampuan unik yang tidak dimiliki makhluk lain. Salah satunya, ia mampu mempercayai sesuatu yang tidak bisa dilihat, disentuh, atau dibuktikan secara fisik, dan menjadikannya sebagai narasi besar secara kolektif. Sejarawan Yuval Noah Harari menyebutnya shared myths, suatu narasi bersama yang menjadi perekat manusia bisa bekerja sama dalam skala besar.
Kerajaan Babilonia berdiri bukan karena Hammurabi lebih kuat dari rakyatnya, melainkan karena ratusan ribu orang meyakini hukum dan hierarki yang sama. Imperium Romawi membentang dari Inggris hingga Mesopotamia bukan karena kekuatan militer semata, tetapi karena jutaan orang yang belum pernah saling bertemu tetap tunduk pada satu narasi tentang Roma. Universitas-universitas besar dunia, seperti: Oxford, Al-Azhar, Bologna bertahan melampaui dinasti dan rezim bukan karena bangunannya kokoh, tetapi karena visi dan nilai yang mereka emban terus dipercaya dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Rasulullah ﷺ pun telah merumuskan hukum ini jauh sebelum para sejarawan modern menemukannya: "Innamal a'maalu binniyyaat" (setiap amal bergantung pada niatnya). Dan khazanah Arab menambahkan dengan tegas: "Man lam ya'rif wijhatahu, laa tu'iinuhu riihun" (barang siapa tidak mengenal tujuannya, tidak ada angin yang akan membantunya). Dua kalimat ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah hukum peradaban yang telah terbukti berulang kali sepanjang sejarah manusia.
Kita hidup di era yang oleh para futuris disebut sebagai age of acceleration (era percepatan). Teknologi kecerdasan buatan dalam hitungan bulan mengubah cara manusia belajar, bekerja, bahkan berpikir. Universitas-universitas yang dua dekade lalu dianggap kokoh kini tengah mempertanyakan relevansi mereka sendiri. Di seluruh dunia, lembaga pendidikan yang gagal menjawab pertanyaan "untuk apa kamu ada?" perlahan kehilangan relevansi, kehilangan kepercayaan, dan akhirnya kehilangan masa depan.
Ini bukan ancaman yang datang dari jauh. Ini adalah kenyataan yang sudah mengetuk pintu kita.
UNIA: Warisan Pesantren di Tengah Pusaran Perubahan
Di sinilah Universitas Al-Amien Prenduan berdiri. bukan sebagai penonton, tetapi sebagai lembaga yang memiliki sesuatu yang sangat langka di era ini: akar yang dalam. Pesantren Al-Amien Prenduan telah membuktikan selama puluhan tahun bahwa adalah mungkin untuk melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berkarakter, yang modern sekaligus berakar pada nilai. Di saat banyak institusi pendidikan sedang mencari identitas, kita sudah memilikinya.
Pertanyaannya bukan lagi siapa kita. Pertanyaannya adalah: seberapa jauh kita berhasil membawa identitas itu melangkah?
Peta Jalan UNIA Menuju 2040
Jawaban atas pertanyaan itu dituangkan dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) UNIA 2026–2040 dengan satu visi yang berani: menjadi Global Pesantrenpreneur University. Sebuah universitas yang mengintegrasikan kedalaman spiritual pesantren, karakter kepemimpinan, semangat kewirausahaan, dan daya saing global dalam satu bangunan kelembagaan yang utuh.
Perjalanan itu dirancang dalam tiga babak. Babak pertama (2026–2030): memperkuat fondasi sebagai teaching university yang dipercaya dan dikenal luas di tingkat regional. Babak kedua (2031–2035): naik ke level research university yang menghasilkan pengetahuan baru dan inovasi yang diakui secara nasional. Babak ketiga (2036–2040): melangkah sebagai entrepreneurial university yang berdaya saing dan diperhitungkan di panggung internasional.
Tiga babak ini bukan pembagian waktu yang arbitrer. Ia adalah arsitektur strategis. Setiap tahap membangun fondasi bagi tahap berikutnya, seperti lapisan-lapisan sebuah peradaban yang dibangun dengan sabar dan penuh kesadaran.
MAHASANTRI: Sepuluh Pilar, Satu Peradaban Kecil
Seluruh perjalanan itu ditopang oleh sepuluh pilar strategis yang dirangkum dalam akronim MAHASANTRI: Mahasiswa dan Lulusan, Akreditasi dan Tata Kelola, Hubungan dan Jaringan, Aliran Dana dan Keuangan, Sarana Prasarana dan Sistem, Amal Ilmiah, Nakhoda Insani, Transformasi Pembelajaran, Riset dan Inovasi, dan Integrasi Karakter Islami-Ma'hadi.
Sepuluh pilar ini adalah cetak biru sebuah ekosistem, bukan sekadar daftar program, tetapi gambaran tentang bagaimana seluruh bagian dari lembaga ini saling terhubung dan saling menguatkan. Seperti Oxford yang bertahan lebih dari 900 tahun, atau Al-Azhar yang telah menjadi mercusuar ilmu selama lebih dari satu milenium, ketahanan sebuah lembaga tidak diukur dari kemegahan gedungnya, tetapi dari seberapa kokoh pilar-pilar nilai dan sistemnya. Dalam tulisan-tulisan yang insyaallah akan terbit setelah ini, kita akan membedah satu per satu setiap pilarnya. Bukan sekedar untuk dikenal dan diketahui, tapi untuk dipahami mengapa setiap pilar itu ada dan apa artinya bagi pekerjaan kita sehari-hari.
Sejarah tidak digerakkan oleh dokumen. Sejarah digerakkan oleh manusia yang membaca dokumen itu sebagai narasi bersama, memahaminya, mempercayainya, dan kemudian bertindak berdasarkan keyakinan tersebut.
RIP UNIA 2026–2040 hanya akan menjadi tumpukan berkas jika ia berhenti di meja rapat. Ia akan menjadi kenyataan hanya jika setiap orang yang membaca tulisan ini memutuskan untuk menjadi bagian dari cerita besar ini. Shared myth yang Harari bicarakan, niyyah yang Rasulullah ﷺ ajarkan, dan wijhah yang dituntut oleh khazanah Arab, semuanya menunjuk ke satu arah yang sama: lembaga yang besar adalah lembaga yang seluruh warganya tahu ke mana mereka pergi, dan memilih untuk pergi ke sana bersama-sama. Perjalanan UNIA menuju GPU 2040 sudah dimulai. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita ada di dalamnya?
Semoga Allah memberkahi setiap ikhtiar kita. Aamiin.