Transformasi Universitas Al-Amien Prenduan: Membangun Fondasi untuk Masa Depan yang Berkelanjutan
Oleh: Dr. K.H. Muhtadi Abdul Mun’im, M.A.
(Rektor UNIA Prenduan)
Di penghujung tahun 2025, saat kita merenungkan perjalanan Universitas Al-Amien Prenduan (UNIA), sebuah perguruan tinggi pesantren yang lahir dengan visi besar, terasa seperti berdiri di ambang pintu baru. UNIA belum lama beralih bentuk menjadi universitas, setelah lebih dari 20 tahun nyaman berada di bentuk institut. Hasil perubahan bentuk ini merupakan bagian dari target Renstra 2021-2025. Lima tahun perjalanan yang sudah di ujung ini kita sebut sebagai tahap transformasi, bukan sekadar fase administratif; ia adalah cerminan dari komitmen kita untuk membangun fondasi akuntabilitas dan legalitas yang kokoh. Sebagai sebuah institusi pendidikan yang lahir dari nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, kepesantrenan, dan kejuangan, UNIA telah menorehkan pencapaian luar biasa: status akreditasi yang meningkat dari “Baik” menjadi “Baik Sekali”. Peningkatan ini bukan sekadar label; ia adalah bukti nyata dari dedikasi kita dalam membangun fondasi akuntabilitas dan legalitas. Esai ini bukan hanya catatan pencapaian, melainkan undangan untuk merenung: bagaimana kita telah berkembang, apa yang telah kita capai, dan ke mana kita akan melangkah dalam satu, atau bahkan lima, tahun ke depan. Dengan bahasa yang sederhana namun mendalam, mari kita jelajahi perjalanan ini sebagai inspirasi bagi setiap sivitas akademika dan stake holder UNIA untuk terus berkontribusi.
Refleksi pertama kita tertuju pada finalisasi revisi dan pembaruan dokumen induk perguruan tinggi. Bayangkan sebuah rumah tanpa pondasi yang kuat—ia rentan roboh di tengah badai. Begitulah UNIA sebelum fase ini benar-benar tuntas. Melalui program Penuntasan Legalitas, Revisi Dokumen Induk, dan Tata Kelola, kita masih terus berusaha menyempurnakan dasar-dasar aturan, kebijakan, kerangka kinerja dan operasional. Dokumen-dokumen esensial, seperti Statuta, Rencana Induk Pengembangan Institusi, Rencana strategis, kini telah direvisi dengan memasukkan masukan dari berbagai pihak. Ini bukan sekadar urusan birokrasi; ia adalah langkah untuk menciptakan akuntabilitas yang transparan dan sudah harus terintegrasi dengan sistem informasi digital. Saya teringat bagaimana, dalam 2 tahun terakhir, tim kita bekerja tanpa lelah untuk memastikan setiap klausul selaras dengan regulasi nasional dan visi UNIA. Hasilnya? Sebuah rumusan tata kelola yang lebih efisien, di mana setiap keputusan didasari hukum yang sah.
Pencapaian ini, yang turut mendorong peningkatan akreditasi, mengajak kita bertanya: bagaimana kita bisa menjaga semangat ini agar tetap hidup dalam rutinitas pengabdian akademik sehari-hari? Dalam satu tahun mendatang, rencana kita adalah mengimplementasikan tata kelola ini secara lebih luas, termasuk audit mutu internal rutin untuk mempertahankan standar “Baik Sekali”. Renungan ini mengajak kita bertanya: apakah kita telah sepenuhnya menghayati nilai akuntabilitas ini dalam keseharian? Proses ini adalah awal dari budaya di mana kepercayaan publik dan kesadaran mutu internal menjadi nilai utama.
Selanjutnya, penguatan Sumber Daya Insani (SDI) menjadi sorotan yang tidak bisa diabaikan. Prioritas ini memastikan bahwa proses peningkatan sebuah lembaga pendidikan harus dimulai dari membangun manusia secara utuh. Kita perlu fokus pada peningkatan kualitas personalia—seluruh fungsionaris, dosen, dan karyawan—melalui pelatihan profesional dan pengembangan kapasitas. Tantangan dunia pendidikan terus berkembang sehingga seluruh kewajiban tridharma dosen harus mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman dan teknologi digital. Tahun ini, fokus utama kita pada bidang ini adalah upgrading dan upskilling sumber daya internal yang ada—mulai dari dosen hingga staf manajemen, administrasi, hingga pada level pimpinan.
Ini adalah komitmen bahwa SDI adalah jantung UNIA. Refleksi atas proses ini membuat kita sadar bahwa investasi pada manusia bukan pengeluaran, melainkan benih yang akan tumbuh menjadi pohon rindang. Dalam satu tahun ke depan, rencana kita lainnya adalah meningkatkan program ini dengan kolaborasi eksternal, memastikan setiap sivitas akademika UNIA tidak hanya kompeten, tapi juga termotivasi untuk berkontribusi pada misi bersama. Tantangannya adalah bagaimana kita, sebagai individu, bisa menjadi bagian dari penguatan ini?
Tak kalah penting adalah penyelarasan kurikulum yang mengintegrasikan karakter kepesantrenan (Ma’hadi), yang menjadi jiwa dari identitas UNIA. Karakter ma’hadi dalam visi UNIA—yang mencakup nilai-nilai pancajiwa pesantren, kepemimpinan dan kewirausahaan—perlu diintegrasikan ke dalam budaya organisasi, kinerja, dan kurikulum. Ini bukan sekadar slogan; melalui workshop dan program internal, kita berusaha menyelaraskan seluruh personalia dengan misi utama UNIA. Refleksi ini mengingatkan kita pada akar kita: di tengah arus modernisasi pendidikan, bagaimana kita mempertahankan esensi spiritual, dan tidak terjebak pada rutinitas ritual belaka? Proses integrasi ini adalah fondasi yang kuat, di mana setiap mata kuliah tidak hanya menyampaikan ilmu, tapi juga membentuk karakter. Ke depan, dalam satu tahun mendatang, kita akan memperdalam integrasi ini melalui inisiatif seperti mentoring berbagai kegiatan berbasis nilai ma’hadi pada seluruh program (intensif, plus dan reguler), memastikan UNIA tetap menjadi mercusuar pendidikan Islam yang relevan dan terdepan.
Target prioritas lainnya, yang menjadi tonggak yang paling visioner di tahap transformasi adalah inisiasi Fondasi Kemandirian Finansial. Tahun ini, kita telah memulai unit bisnis potensial dan membangun sistem finansial dasar yang berkelanjutan. Ini adalah langkah berani menuju kemandirian, di mana UNIA tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sumbangan atau biaya kuliah. Meskipun kenaikan biaya kuliah secara bertahap tetap harus dilakukan sebagai bagian gerakan kontribusi berjamaah untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan kemandirian di UNIA. Kemandirian bukan hanya soal uang, tapi tentang kebebasan untuk berinovasi. Dengan fondasi ini, kita siap menghadapi tantangan ekonomi. Rencana satu tahun ke depan mencakup ekspansi unit bisnis, seperti pengembangan produk berbasis pengetahuan pesantren, yang akan menghasilkan pendapatan stabil sambil memperkuat misi sosial.
Beberapa proses dan program di tahap Transformasi 2025 ini adalah mandatory—wajib diselesaikan—sebelum kita memasuki Tahap Diversifikasi (2026–2030). Di fase mendatang, UNIA akan membangun budaya mutu sebagai teaching university unggul dan fondasi riset yang berkualitas. Renungan ini bukan akhir cerita, melainkan panggilan untuk bertindak. Mari kita gunakan pencapaian ini sebagai bahan bakar untuk mimpi yang lebih besar. Sebagai sivitas akademika UNIA, kita bukan sekadar pendidik atau pelajar; kita adalah pembangun masa depan. Dengan fondasi yang telah kita bangun, satu tahun ke depan adalah kesempatan untuk mewujudkan universitas yang akuntabel, bermartabat, dan menginspirasi. Mari renungkan, bertindak, dan maju bersama.
