Oleh: Muhtadi Abdul Mun'im
Pada saat pertemuan dengan para dosen dan tenaga kependidikan di kampus, saya menyampaikan bahwa rektor adalah khadimul jami'ah — pelayan universitas. Ini bukan retoris, tapi sebagai cara memaknai jabatan. Pemaknaan terhadap jabatan apapun yang diemban akan menentukan cara kita menjalankannya. Tulisan ini adalah upaya untuk mengartikulasikan pemikiran itu secara lebih serius — dan mengundang seluruh civitas akademika untuk merenungkannya bersama.
Krisis Makna di Balik Jabatan
Kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi menghadapi sebuah paradoks yang jarang dibicarakan secara terbuka. Di satu sisi, universitas adalah lembaga yang secara eksplisit mengidealkan nilai-nilai intelektual: kejujuran, kerendahan hati epistemic (epistemic humility), dan keberpihakan pada kebenaran. Di sisi lain, struktur internal universitas kerap mereproduksi pola kekuasaan yang justru bertentangan dengan nilai-nilai tersebut — hierarki yang kaku, budaya yes-man, dan orientasi pada citra ketimbang substansi.
Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut institusi akademik sebagai arena di mana symbolic capital — prestise, gelar, jabatan — diperebutkan tidak kalah sengitnya dibanding arena ekonomi dan politik. Akibatnya, jabatan akademik mudah bergeser fungsi: dari instrumen pelayanan menjadi tujuan itu sendiri. Rektor bukan lagi servant leader, melainkan status symbol. Profesor bukan lagi pencari kebenaran, melainkan pengumpul poin publikasi.
Pertanyaannya adalah: apa yang bisa kita tawarkan sebagai alternatif konseptual yang tidak hanya indah secara retoris, tapi juga operasional secara praktis?
Sabda yang Membalikkan Logika Kekuasaan
Ada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang singkat, tapi memiliki daya balik yang luar biasa terhadap cara kita memahami kepemimpinan:
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
"Sayyidul qawmi khadimuhum" — pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. (HR. Abu Nua'im dalam Hilyatul Auliya')
Kalimat ini hanya empat kata dalam bahasa Arab. Tapi ia mengandung sebuah pernyataan yang, jika benar-benar dihayati, akan meruntuhkan hampir seluruh bangunan asumsi kita tentang apa artinya menjadi pemimpin.
Perhatikan konstruksinya. Hadis ini tidak berkata: "Pemimpin yang baik seharusnya melayani." Ia berkata: pemimpin adalah pelayan. Bukan anjuran moral. Bukan idealisme utopis. Melainkan sebuah definisi — pernyataan tentang apa hakikat kepemimpinan itu sendiri. Jika seseorang tidak melayani, maka menurut logika hadis ini, ia belum sepenuhnya menjadi pemimpin; ia baru menjadi pemegang jabatan. Tapi hadis ini tidak akan lengkap tanpa melihat siapa yang mengucapkannya — dan bagaimana ia menjalaninya.
Pemimpin yang Melayani dengan Tangannya Sendiri
Nabi Muhammad SAW adalah kepala negara, panglima perang, pemimpin spiritual, dan hakim tertinggi pada saat itu bagi komunitas Madinah. Dengan kata lain, ia adalah orang yang paling berhak untuk tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Namun justru di sanalah letak keajaiban teladan beliau.
Aisyah r.a. pernah ditanya: apa yang biasa dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah? Ia menjawab: "Kana fi mihnatil ahlihi — beliau membantu pekerjaan keluarganya." Beliau menjahit sandalnya sendiri, menambal pakaiannya sendiri, dan tidak pernah meminta dilayani untuk urusan yang bisa ia kerjakan sendiri. (HR. Bukhari). Ini bukan kesederhanaan yang dipentaskan. Ini adalah cara hidup yang konsisten antara panggung dan belakang panggung.
Dalam Perang Khandaq (627 M), ketika kaum Muslimin harus menggali parit panjang untuk mempertahankan Madinah dari serangan koalisi musuh, Nabi SAW tidak berdiri mengawasi dari kejauhan. Beliau turun dan menggali bersama para sahabat — tangannya melepuh, perutnya lapar, dan ia mengikatkan batu ke perutnya untuk menahan rasa lapar, persis seperti yang dilakukan sahabat-sahabatnya. Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan bahwa ketika melihat kondisi Nabi SAW, ia bergegas pulang, menyembelih kambing kecil miliknya, dan memasak makanan — hanya untuk Rasulullah dan rombongan kecil. Tapi Nabi SAW mengundang seluruh pasukan yang berjumlah seribu orang untuk makan bersama, dan makanan itu — secara ajaib — mencukupi semuanya. (HR. Bukhari dan Muslim). Yang ingin saya tekankan bukan mukjizatnya. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa pemimpin itu ada di dalam parit, bukan di atas tribun.
Cerita lainnya. Dalam sebuah perjalanan, ketika para sahabat membagi tugas memasak dan menyiapkan perbekalan, Nabi SAW mengambil bagian untuk mencari kayu bakar. Para sahabat berkeberatan — mereka ingin mengerjakan semuanya sendiri agar beliau beristirahat. Nabi SAW menjawab: "Saya tidak suka menjadi istimewa. Allah tidak menyukai hambanya yang merasa dirinya lebih dari sahabat-sahabatnya." Lalu beliau pergi ke hutan dan kembali membawa kayu bakar di atas pundaknya sendiri. (Diriwayatkan dalam berbagai kitab Sirah).
Anas bin Malik r.a. yang melayani Nabi SAW selama sepuluh tahun bersaksi: "Rasulullah tidak pernah berkata 'uf' (kata ekspresi jengkel) kepadaku sekalipun. Beliau tidak pernah berkata 'mengapa kamu lakukan ini' atas sesuatu yang aku kerjakan, dan tidak pernah berkata 'mengapa kamu tidak kerjakan ini' atas sesuatu yang aku tinggalkan." (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang pemimpin yang, selama satu dekade, tidak pernah sekalipun membuat orang di sekitarnya merasa kecil.
Rangkaian kisah ini bukan sekadar catatan sejarah yang mengagumkan. Ia adalah tafsir hidup atas sabda sayyidul qawmi khadimuhum — bahwa kepemimpinan Nabi SAW bukan hanya dideklarasikan dalam kata-kata, tapi dikonfirmasi setiap hari dalam tindakan-tindakan yang paling sederhana.
Khadim: Sebuah Konsep yang Menuntut Keberanian
Teladan Nabi SAW itu memperjelas sesuatu yang penting: khadim bukan pilihan untuk menjadi lemah. Dalam khazanah Islam, konsep pelayanan (khidmah) bukan tanda inferioritas, melainkan puncak kematangan moral. Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin secara konsisten mengaitkan kepemimpinan yang baik dengan kemampuan seseorang untuk melepaskan kepentingan pribadi demi kemaslahatan yang lebih luas — sebuah kapasitas yang justru membutuhkan kekuatan karakter yang besar.
Ini bukan sekadar wacana spiritual. Robert Greenleaf, yang pada 1970 memperkenalkan konsep servant leadership dalam literatur manajemen modern, tiba pada kesimpulan yang secara struktural serupa: pemimpin terbaik adalah mereka yang pertama-tama bertanya, "Apa yang dibutuhkan orang-orang yang saya pimpin? Apa yang bisa saya berikan?" — bukan "Apa yang bisa saya dapatkan dari posisi ini?" Greenleaf berargumen bahwa organisasi yang dipimpin dengan orientasi pelayanan terbukti lebih adaptif, lebih inovatif, dan lebih mampu mempertahankan kepercayaan anggotanya dalam jangka panjang.
Yang menarik adalah bahwa Greenleaf merumuskan konsepnya pada abad ke-20, sementara Nabi Muhammad SAW telah menghidupinya empat belas abad sebelumnya — bukan sebagai teori, melainkan sebagai praktik harian yang terdokumentasi dengan sangat rinci dalam kitab-kitab hadis.
Khadimul jami'ah, dengan demikian, bukan sekadar ungkapan retoris. Ia adalah model kepemimpinan yang memiliki basis empiris, historis, dan konseptual yang kokoh.
Kepemimpinan yang Merata
Yang membuat konsep ini lebih jauh jangkauannya adalah hadis lain yang melengkapinya: "Kullukum raa'in, wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihi" — setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika sayyidul qawmi khadimuhum mendefinisikan apa kepemimpinan itu, maka kullukum raa'in menegaskan siapa yang terkena definisi tersebut: setiap orang, tanpa kecuali. Kepemimpinan bukan monopoli mereka yang memegang jabatan formal. Ia adalah kondisi universal yang melekat pada setiap individu dalam lingkup dan kapasitasnya masing-masing.
Implikasinya bagi kehidupan kampus sangat konkret. Seorang dosen adalah pemimpin di kelasnya — bertanggung jawab bukan hanya atas tersampaikannya materi, tapi atas tumbuhnya cara berpikir mahasiswanya. Seorang staf administrasi adalah pemimpin dalam domain layanannya — bertanggung jawab atas apakah mahasiswa yang datang dengan masalah akademik pulang dengan solusi atau dengan frustrasi. Bahkan seorang mahasiswa senior adalah pemimpin bagi adik-adik tingkatnya — bertanggung jawab atas ekosistem belajar yang ia ikut bentuk setiap harinya.
Ini adalah pemahaman kepemimpinan yang bersifat distributif, bukan sentralistik. Dan universitas yang benar-benar sehat adalah universitas yang berhasil menginternalisasi prinsip ini di setiap lapisannya — di mana semua orang merasa bahwa mereka bukan sekadar pelaksana instruksi, melainkan pemangku amanah yang aktif.
Tridharma sebagai Ladang Pertanggungjawaban
Dalam konteks perguruan tinggi Indonesia, kedua hadis di atas menemukan wadahnya yang paling konkret dalam Tridharma: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tapi ada bahaya yang perlu kita akui secara jujur — bahwa Tridharma mudah sekali terdegradasi menjadi sekadar daftar kewajiban administratif yang harus dipenuhi agar tidak kena sanksi.
Jika pendidikan hanya diukur dari kehadiran dan nilai yang masuk tepat waktu, kita kehilangan pertanyaan yang sesungguhnya penting: apakah mahasiswa kita menjadi manusia yang tercerahkan? Jika penelitian hanya diukur dari jumlah artikel di jurnal terindeks, kita kehilangan pertanyaan tentang relevansi: apakah pengetahuan yang dihasilkan menyentuh problem nyata yang dihadapi masyarakat? Dan jika pengabdian hanya dimaknai sebagai kegiatan yang harus ada laporannya, kita kehilangan semangat dasarnya: kehadiran yang tulus di tengah komunitas yang membutuhkan.
Nabi SAW yang turun ke dalam parit bersama sahabat-sahabatnya adalah metafora yang tepat untuk ini. Pengabdian sejati bukan dijalankan dari balik meja dengan laporan yang rapi. Ia dijalankan dengan hadir — dengan tangan yang bersedia kotor, dengan waktu yang bersedia tersita, dengan keahlian yang bersedia dibagikan tanpa menunggu imbalan.
Seorang dosen yang turun ke kampung-kampung dan madrasah-madrasah — bukan karena ada borang yang menunggunya, tapi karena ia merasa ada jarak yang belum terjembatani antara ilmunya dan dunia nyata — adalah dosen yang telah menghayati Tridharma bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai panggilan.
Memilih Cara Kita Hadir
Universitas bukan gedung. Bukan status akreditasi. Bukan posisi dalam rangking nasional maupun internasional — meskipun semua itu penting dan tidak boleh diabaikan. Universitas, pada hakikatnya, adalah komunitas manusia yang secara kolektif berkomitmen pada pencarian dan penyebaran kebenaran demi kemaslahatan masyarakat.
Komitmen itu tidak bisa didelegasikan sepenuhnya kepada rektor, atau kepada senat, atau kepada siapa pun yang memegang jabatan formal. Ia harus hidup — dan terus-menerus dipilih ulang — oleh setiap individu yang menjadi bagian dari komunitas ini.
Nabi Muhammad SAW, dengan segala otoritas yang beliau miliki — sebagai nabi, sebagai kepala negara, sebagai panglima — memilih untuk menggali parit, memanggul kayu bakar, menjahit sandalnya sendiri, dan tidak pernah membuat orang di sekitarnya merasa kecil. Bukan karena beliau tidak punya pilihan lain. Tapi karena beliau tahu bahwa sayyidul qawmi khadimuhum — dan beliau ingin hidupnya menjadi tafsir atas sabdanya sendiri.
Khadimul jami'ah bukan hanya tentang bagaimana seorang rektor memimpin. Ia adalah cermin yang dihadapkan kepada kita semua: dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa. Apakah kita hadir di sini untuk mengambil, atau untuk memberi? Apakah jabatan dan peran yang kita emban hari ini sedang kita jalani sebagai privilese, atau sebagai amanah?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak perlu diumumkan. Ia cukup dijalani — dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak terlihat, setiap hari, tanpa menunggu tepuk tangan.